Senin, 02 Januari 2012

MAKALAH B.INDONESIA ( BAHASA DAN MASYARAKAT )


BAB 1
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang Masalah
Seperti kita ketahui bahasa dan masyarakat merupakan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan, tidak mungkin ada masyarakat tanpa bahasa dan tidak mungkin pula ada bahasa tanpa masyarakat. Namun seiring berjalannya waktu dalam suatu bahasa juga dapat terjadi pergeseran, hal ini terjadi karena dipengaruhi berbagai hal diantaranya perkembangan ilmu dan teknologi. Seperti kita ketahui pula bahwa fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat komunikasi social. Bahasa adalah suatu wahana untuk kita berinteraksi dengan orang lain. Dengan demikian setiap anggota masyarakat tentunya memiliki dan menggunakan alat komunikasi social tersebut. Tidak ada bahasa tanpa masyarakat dan tidak ada pula masyarakat tanpa bahasa.
Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, maka bahasa pun mengalami perubahan yang sangat signifikan. Hal ini disebabkan karena bahasa memang tidak lepas dari masyarakat. Dua hal ini saling berkaitan, begitu pula dengan bahasa indonesia yang diangkat dari bahasa Melayu yang bersifat lingua franca sebagai bahasa penghubung yang tersebar di Nusantara hingga saat dirumuskannya bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu yang menjadi bahasa negara, sejak itupun perkembangan bahasa Indonesia terus berkembang, beribu-ribu istilah dan kata-kata baru bermunculan, dari segi struktur kita tingkatkan swadayanya sehingga kita dapat rumuskan segala pemikitan yang tinggi dan rumit dalam bahasa Indonesia, sehingga bahasa Indonesia menjadi bahasa yang canggih yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakatnya yang juga berkembang dan modern.
B.     Rumusan masalah
Dengan mengetahui latar belakang diatas, maka rumusan masalahnya sebagai berikut :
1.      Bahasa dan tutur
2.      Verbal repertoire
3.      Masyarakat tutur
4.      Bahasa dan tingkatannya
BAB II
PEMBAHASAN
1.      BAHASA DAN TUTUR
Bahasa adalah penggunaan kode yang merupakan gabungan fonem sehingga membentuk kata dengan aturan sintaks untuk membentuk kalimat yang memiliki arti. Bahasa memiliki berbagai definisi. Definisi bahasa adalah sebagai berikut:
1.suatu sistem untuk mewakili benda, tindakan, gagasan dan keadaan.
2. suatu peralatan yang digunakan untuk menyampaikan konsep riil mereka ke dalampikiran orang lain
3. suatu kesatuan sistem makna
4. suatu kode yang yang digunakan oleh pakar linguistik untuk membedakan antarabentuk dan makna.
5. suatu ucapan yang menepati tata bahasa yang telah ditetapkan (contoh: Perkataan,kalimat, dan lain-lain.)
6. suatu sistem tuturan yang akan dapat dipahami oleh masyarakat linguistic
Perdinand de ssussure ( 1916 ) membedakan antara language, langue, dan parole yang berasal dari bahasa perancis yang dalam bahasa Indonesia dipadankan dengan satu istilah yaitu bahasa. Language dipadankan dengan katta bahasa, langue diartikan sebagai sebuah system lambing bunyi yang digunakan sekelompok anggota masyarakat tertentu untuk berkomunikasi dan berinteraksi sesamanya. Parole dapat dipadankan dengan kata bahasa dalam kalimat.
Adanya saling mengerti antara penduduk di garut selatan dengan penduduk karawang adalah karena adanya kesamaan system dan subsystem ( fonologi, morfologi, sintaksis, leksikon, dan semantic ) diantara parole-parole yang mereka gunakan.
2.      VERBAL REPERTOIRE
Verbal repertoire merupakan rangkaian semua bahasa beserta ragam-ragamnya yang dimiliki atau dikuasai seseorang penutur.
Dalam sosiolinguistik Dell Hymes tidak membedakan secara eksplisit antara bahasa sebagai sistem dan tutur sebagai keterampilan. Keduanya disebut sebagai kemampuan komunikatif (communicative competence). Kemampuan komunikatif meliputi kemampuan bahasa yang dimiliki oleh penutur beserta keterampilan mengungkapkan bahasa tersebut sesuai dengan. fungsi dan situasi serta norma pemakaian dalam konteks sosialnya.
Berdasarkan verbal repertoire yang dimiliki oleh masyarakat, masyarakat bahasa dibedakan menjadi tiga, yaitu
a. Masyarakat monolingual (satu bahasa)
b. masyarakat bilingual (dua bahasa)
c. masyarakat multilingual.(lebih dari 2 bahasa)
Kemampuan komunikatif yang dimiliki individu maupun kelompok disebut verbal repertoire. Jadi verbal repertoire dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu verbal repertoire yang dimiliki individu dan yang dimiliki masyarakat. Jika suatu masyarakat memiliki verbal repertoire yang relatif sama dan memiliki penilaian yang sama terhadap pemakaian bahasa yang digunakan dalam masyarakat disebut masyarakat bahasa
Verbal repertoire ada dua macam yaitu yang dimiliki setiap penutur secara individual, dan yang merupakan milik masyarakat tutur bahasa secara keseluruhan. Yang pertama mengacu pada alat-alat verbal yang dikuasai seorang penutur, termasuk kemampuan untuk memilih norma-norma social bahasa sesuai dengan situasi dan fungsinya. Yang kedua mengacu pada keseluruhan alat-alat verbal yang ada pada masyarakat, beserta dengan norma-norma untuk memilih variasi yang sesuai dengan konteks sosialnya.
3.      MASYARAKAT TUTUR
Masyarakat Tutur Menurut Wijaya dan Muhammad (2006 : 46) masyarakat tutur ialah sekelompok orang dalam lingkup luas atau sempit yang berinteraksi dengan bhasa tertentu yang dpat dibedakan dengan kelompok masyarakat tutur lain atas dasar perbedaan bahasa yang bersifat signifikan.
Chaer dan Agustina (2004 : 36) mendefinisikan masyarakat tutur sebagai suatu kelompok orang atau masyarakat memiliki verbal repetoir yang relatif sama serta mereka mempunyai penilaian yang sama terhadap norma-norma pemakaian bahasa yang digunakan di dalam masyarakat itu.
Fishman dalam Cher dan Agustina (2004 : 36) mengatakan masyarakat tutur adalah suatu masyarakat yang anggota-anggitanya setidak-tidaknya mengenal satu variasi bahasa dan norma-norma yang sesuai dengan penggunaannya.
Masyarakat tutur menurut Kridalaksana (2008 : 150) ialah kelompok orang yang merasa memiliki bahasa bersama atau yang merasa termasuk dalam kelompok itu, atau yang berpegang pada bahasa standart yang sama.
Gumperz dalam Sumarsono (2007 : 318) mengatakan bahwa masyarakat tutur ialah sekelompok menusia yang memiliki karakteristik khas karena melakukan interaksi yang teratur dan berkali-kali dengan tanda-tanda verbal yang sama, dan berbeda dari kelompok lain karena adanya perbedaan yang signifikan dalam penggunaan bahasa.
Berdasarkan pendapat para ahli bahasa dan sosiolinguistik diatas dapat disimpulkan bahwa masyarakat tutur ialah sekelompk orang atau individu yang memiliki kesamaan atau menggunakan sistem kebahasaan yang sama berdasarkan norma-norma kebahasaan yang sesuai.
Kalau suatu kelompok orang atau suatu masyarakat mempunyai verbal repertoire yang relatife sama serta mereka mempunyai penilaian yang sama terhadap norma-norma pemakaian bahasa yang digunakan di dalam masyarakat itu adalah sebuah masyarakat tutur ( inggris : speech community ) jadi, masyarakat tutur bukanlah hanya kelompok orang yang mempunyai norma yang sama dalam menggunakan bentuk-bentuk bahasa. Masyarakat tutur adalah adanya perasaan menggunakan tutur yang sama ( Djokokentjono : 1982 ). Contoh masyarakat tutur bahasa Indonesia adalah satu  Negara.
Dilihat dari sempit dan luasnya verbal repertoirenya dapat dibedakan adanany dua macam masyarakat tutur :
1.      Masyarakat tutur yang repertoire pemakaianya lebih luas, dan menunjuk verbal repertoire setiap penutur lebiih luas pula
2.      Masyarakat tutur yang sebagian anggotanya mempunyai pengalaman sehari-hari dan aspirasi hidup yang sama, dan menunjukan pemilikan wilayah linguistic yang lebih sempit, termasuk juga perbedaan variasinya.
4.    BAHASA DAN TINGKATANNYA
Pokok pembicaran sosiolinguistik adalah hubungan antara bahasa dengan penggunaanya didalam masyarakat yaitu hubungan antara bentuk-bentuk bahasa tertentu, yang disebut variasi bahasa, ragam, atau dialek dengan penggunaannya untuk fungsi-fungsi tertentu dimasyarakat
Adakah hubungan antara antara bahasa dengan tingkatan social ? tingkatan social di dalam masyarakat itu bisa dilihat dari dua segi yaitu :
1)      Dari segi kebangsawanan
2)      Dari segi kedudukan social yang ditandai dengan tingkatan pendidikan dan keadaan perekonomian yang dimiliki
Untuk melihat adanya hubungan antara kebangsawanan dengan bahasa, kita ambil contoh masyarakat tutur bahasa jawa, mengenai tingkat kebangsawanan ini, kutjoroningrat ( 1967 : 245 ) membagi masyarakat jawa ada 4 tingkat yaitu :
a)      Wong ellik
b)      Wong sudagar
c)      Priyayi
d)      Ndara
Sedangkan menurut Clifford beerts ( dalam pride dan holmes (ed) 1976 ), membagi masyarakat jawa menjadi 3 tungkat yaitu :
·        Priyayi
·        Bukan priyayi tetapi berpendidikan dan bertempat tinggal dikota
·        Petani dan orang-orang kota yang tidak berpendidikan
Berdasarkan tingkatan tersebut melahirkan undak usuk yaitu variasi bahasa yang penggunaanya didasarkan pada tingkat-tingkat social

PAKEM


PAKEM
( pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan )
            Pada hakikatnya, selama ini sosok yang menjadi sorotan tiap pasang mata adalah kehadiran dari seorang pendidik atau disebut dengan guru. Aktivitas guru selain mentrasfer ilmu, juga mempunyai tugas yaitu mengajar, mendidik, serta membimbing peserta didiknya. Namun, yang menjadi masalah sekarang ialah apakah  pembelajaran yang selama ini diterapkan oleh guru sudah mampu membuat siswa mencapai hasil yang optimal dan mampu mengembangkan potensi yang dimiliki siswa berkembang?
            Selain mempunyai metode serta strategi pembelajaran yang baik, seorang guru juga di tuntut untuk dapat professional. Namun jauh dari pembicaraan ini, pembelajaran yang saat ini sedang banyak dibicarakan adalah PAKEM atau pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
            PAKEM merupakan metode pembelajaran yang banyak menarik perhatian masyarakat luas, dimana manfaat dari PAKEM itu sendiri dalam menggali dan mendinamisir potensi anak didik ditengah mundurnya kualitas pendidikan di negeri ini. Ciri model pembelajaran PAKEM adalah :
1.      Multi metode dan multi media
2.      Praktik dan bekerja dalam satu tim
3.      Memanfaatkan lingkungan sekitar
4.      Dilakukan didalam dan diluar kelas serta
5.      Multi aspek ( logika, praktek, dan etika )
program PAKEM menuntut agar guru mampu menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa dapat mencapai hasil yang diharapkan.
Gambaran lengkap mengenai peran guru dan siswa dalam PAKEM :
a.       Pembelajaran aktif
1)      Guru aktif
a)      Memantau kegiatan belajar siswa
b)      Member umpan balik
c)      Mengajukan pertanyaan yang menantang
d)      Memepertanyakan gagasan siswa
2)      Siswa aktif
a)      Membangun konsep bertanya
b)      Bertanya
c)      Bekerja, terlibat, dan berpartisipasi
d)      Menemukan dan memecahkan masalah
e)      Mengemukakan gagasan
f)        Mempertanyakan gagasan
b.      Pembelajaran kreatif
1)      Guru kreatif
a)      Mengembangkan kegiatan yang menarik dan beragam
b)      Membuat alat bantu belajar
c)      Memanfaatkan lingkungan
d)      Mengelola kelas dan sumber belajar
e)      Merencanakan proses dan hasil belajar
2)      Siswa kreatif
a)      Membuat atau merancang sesuatu
b)      Menulis atau mengarang
c.       Pembelajaran efektif
1)      Guru mencapai tujuan pembelajaran
2)      Aiawa mencapai kompetensi yang diharapkan
d.      Pembelajaran menyenangkan
1)      Siswa senang karena :
a)      Kegiatannya menarik, menantang, dan meningkatkan motivasi
b)      Mendapat pengalamn secara langsung
c)      Kemampuan berfikir kritis dalam memecahkan masalah semakin meningkat
d)      Tidak membuat siswa takut
2)      Guru senang karena mampu mengkondisikan anak agar mampu :
a)      Berani mencoba atau berbuat
b)      Berani bertanya
c)      Berani memberikan gagasan atau pendapat
Berani mempertanyakan gagasan orang lain

Jumat, 23 Desember 2011


makalah-perkembangan interpersonal peserta didik
BAB 1
PENDAHULUAN
A.     Latar belakang masalah
Pada dasarnya tiap peserta didik memerlukan orang lain untuk menemani ataupun sebagai tempat curahan segala apa yang dirasa. Dalam hal ini peran keluarga, teman sebaya, ataupun sahabat sangat diperlukan. Komunikasi interpersonal pada lingkungan sekitar dapat mempengaruhi aktivitas belajar mereka. Tujuan dari komunikasi interpersonal adalah menemukan diri sendiri, menemukan dunia luar, membentuk dan menjaga hubungan yang penuh arti, berubah sikap dan tingkah laku, untuk bermain dan kesenangan, serta untuk membantu. Hal ini disampaikan oleh Armi Muhamad ( 2002 : 165 ).
Dalam kaitannya dengan komunikasi interpersonal, seorang peserta didik tentu memerlukan adanya ketenangan serta kecocokan agar dapat mencapai sebuah hubungan yang harmonis dan seimbang.
B.     Rumusan masalah
1)      Hubungan dengan keluarga
2)      Hubungan dengan teman sebaya
3)      Persahabatan
4)      Hubungan dengan sekolah
                                                                                         






BAB II
PEMBAHASAN
1.      Hubungan dengan keluarga
Menurut armi muhamad ( 2002 : 159 ), komunikasi interpersonal di definisikan sebagai “ proses pertukaran informasi diantara seseorang dengan paling kurang seorang lainnya atau biasanya diantara dua orang yang dapat langsung diketahui baliknya. Komunikasi interpersonal merupakan format komunikasi yang paling sering dilakukan oleh semua orang dalam hidupnya.
A.     Karakteristik hubungan anak usia sekolah dengan keluarga
Dari definisi diatas dapat diketahui perlunya seorang peserta didik untuk berkomunikasi dengan keluarga dalam hal ini yaitu orang tua. Keluarga merupakan unit social yang terkecil yang memiliki peranan penting dan menjadi dasar bagi perkembangan psikososial anak dalam konteks social yang lebih luas. Bersamaan dengan masuknya anak kesekolah dasar, maka terjadilah perubahan hubungan anak dengan orang tua. Perubahan tersebut di antaranya disebabkan adanya peningkatan penggunaan waktu yang dilewati anak-anak bersama teman-teman sebayanya.
Dengan banyaknya perubahan yang terjadi pada anak, maka figur orang tua sangat dibutuhkan untuk menuntun anak agar mampu menjalani kesehariannya dengan baik dan mampu berinteraksi dengan lingkungannya. Hubungan orang tua dan anak akan berkembang dengan baik jika diantara keduanya saling memupuk keterbukaan. Berbicara dan mendengarkan merupakan hal yang sangat penting, perkembangan yang dialami anak sama sekali bukan alasan untuk menghentikan kebiasaan-kebiasaan di masa kecilnya.
Sesuai dengan perkembangan kognitifnya yang semakin matang, maka pada usia sekolah, anak secara berangsur-angsur lebih banyak mempelajarai mengenai sikaap-sikap dan motivasi orang tuanya, serta memahami aturan-aturan keluarga, sehingga mereka menjadi lebih mampu untuk mengendalikan tingkah lakunya, perubahan ini mempunyai dampak yang besar tehadap kualitas hubungan anak-anak usia sekolah dengan orang tua mereka. Dalam hal ini, orang tua merasakan pengontrolan dirinya terhadap tingkah laku anak mereka berkurang dari waktu ke waktu dibandingkan pada tahun-tahun awal kehidupan mereka.

Dengan demikian meskipun terjadinya pengurangan pengawasan dari orang tua tarhadap anaknya selama usia sekolah dasar, bukan berarti orang tua sama sekali melepaskan mereka. Sebaliknya orang tua masih terus memonitor usaha-usaha yang dilakukan anak dalam memelihara diri mereka, sekalipun secara tidak langsung.
B.     Karakteristik hubungan remaja dengan keluarga
Remaja merupakan sebuah masa pergantian yang sering disebut juga dengan masa untuk menemukan jati diri, perubahan-perubahan yang terjadi pada remaja baik dari fisik, kognitif, social. Hal ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap relasi orang tua dan remaja. Salah satu cirri yang menonjol dari remaja ialah perjuangan untuk memperoleh otonomi, baik secara fisik dan psikologis. Karena remaja meluangkan lebih sedikit waktunya bersama orang tua dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk saling berinteraksi dengan dunia yang lebih luas, maka mereka berhadapan dengan bermacam-macam nilai dan ide-ide.
Keterikatan orang tua dan remaja dapat membantu kompetensi social dan kesejahteraan sosialnya, seperti tercermin dalam ciri-ciri: harga diri, penyesuaian emosional, dan kesehatan fisik, misalnya remaja yang memiliki hubungan yang nyaman dan harmonis dengan orang tua mereka, memiliki harga diri dan kesejahteraaan emosional yang lebih baik.
Dengan demikian, keterikatan dengan orang tua selama masa remaja dapat berfungsi adaptif, yang menyediakan landasan yang kokoh dimana remaja dapat menjelajahi dan menguasai lingkungan-lingkungan baru dan suatu dunia social yang luas dengan cara-cara yang sehat secara psikologis.
Agar keterikatan ini dapat berjalan dengan harmonis, maka orang perlu membiarkan mereka untuk bebas, namun tetap mengawasi dan mengendalikan meskipun mereka bebas, bukan berarti orang tua lepas tangan. Biarkan mereka mengembangkan diri dengan lingkunagn sekitar.



2.      Hubungan dengan teman sebaya
Siswa dalam perkembangannya mempunyai kebutuhan yang kuat untuk berkomunikasi dan berkeinginan untuk mempunyai banyak teman, namun kadang-kadang untuk membangun hubunagn antar teman itu sendiri tidak mudah, seseorang harus memiliki penerimaan diri yang kuat agar tercipta suatu hubungan yang baik dan sehat.
A.     Karakteristik hubungan anak usia sekolah dengan teman sebaya
Siswa yang memiliki kesulitan dalam melakukan komunikasi interpersoanl menurut Tedjasaputra (2005) akan sulit menyesuaikan diri, seringkali marah, cenderung memaksakan kehendak, egois dan mau menang sendiri sehingga mudah terlibat dalam perselisihan.keterampilan komunikasi interpersonal pada siswa ini menjadi  sangat penting karena dalam bergaul dengan teman sebayanya siswa seringkali dihadapkan dengan hal-hal yang membuatnya harus mampu  menyatakan  pendapat pribadinya tanpa disertai emosi, marah atau sikap kasar, bahkan siswa harus bisa mencoba menetralisasi keadaan apabila terjadi suatu konflik.Bahkan suatu studi menyimpulkan bahwa kelemahan berkomunikasi akan menghambat personal seseorang (Slamet :2005).
Teman sebaya mempunyai fungsi yang hamper sama dengan orang tua, teman bisa memberikan ketenangan ketika mengalami kekhawatiran. Tidak jarang terjadi seorang anak yang tadinya penakut berubah menjadi pemberani berkat teman sebaya. Interaksi teman sebaya pada anak usia sekolah biasanya digambarkan dengan pembentukan kelompok yang biasanya lebih menekankan pada aktivitas bersama-sama, seperti berbicara, berkeluyuran, berjalan ke sekolah, mendengarkan music, bermain game, dll.
B.     Karakteristik hubungan remaja dengan teman sebaya
Perkembangan remaja terjadi dalam konteks sosial yang meliputi keluarga, kelompok teman sebaya dan  masyarakat tempat siswa itu hidup. Maka dalam proses perkembanganya remaja akan selalu bersinggungan dengan situasi-situasi sosial yang tertentu saja mengharuskan  remaja untuk melakukan penyesuaian diri, dengan melakukan penyesuaian diri remaja dapat mengenal, memahami dan menerima sirinya sendiri serta lingkungan.
Perkembangan kehidupan social remaja juga ditandai dengan gejala meningkatnya pengaruh teman sebaya dalam kehidupan mereka. Hubungan teman sebaya lebih didasarkan pada hubungan persahabatan, menurut Bloss, pembentukan persahabatan remaja erat kaitannya dengan perubahan aspek-aspek pengendalian psikologis yang berhubungan dengan kecintaan pada diri sendiri dan munculnya phallic konflik,
Kelly dan Hansen ( 1987 ) menyebutkan 6 fungsi positif dari teman sebaya yaitu :
1)      Mengontrol impuls-impuls agresif
2)      Memperoleh dorongan emosional dan social serta menjadi lebih independen
3)      Meningkatkan keterampilan-keterampilan social, mengembangkan kemampuan penalaran, dan belajar untuk mengekspresikan perasaan-perasaan dengan cara-cara yang lebih matang
4)      Mengembangkan sikap terhadap seksualitas, dan tingkah laku peran jenis kelamin.
5)      Memperkuat penyesuaian moral dan nilai-nilai
6)      Meningkatkan harga diri
Meskipun teman sebaya mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi remaja, namun peran orang tua masih sangat penting. Hal ini adalah karena antara hubungan dengan orang tua dan hubungan teman sebaya memberikan pemenuhan akan kebutuhan-kebutuhan yang berbeda dalam perkembangan remaja ( savin William& berndt, 1990 ).
3.      Persahabatan
Mc Devit dan omrod, mendefinisikan persahabatan sebagai “ peer relationship that is voluntary and reciprocal and includes shared routines and customs “.
Ada 3 kualitas yang membedakan persahabatan dengan bentuk hubungan teman sebaya lainnya, ( mc devvit dan ormrod ), yaitu :
1)      They are voluntary relationship ( adanya hubungan yang di bangun atas dasar sukarela )
2)      They are powered by shared routines and customs ( hubungan persahabatan dibangun atas dasar kesamaa kebiasaan )
3)      They are reciprocal relationship ( persahabatan dibangun atas dasar hubungan timbale balik )
Menurut santrock, karakteristik paling umum dari persahabatan adalah :
·        Keakraban ( intimacy ), diartikan sebagai penyingkapan diri dari berbagai pemikiran pribadi. Keakraban ini menjadi dasar bagi relasi anak denagn sahabat
·        Kesamaan ( similarity )
Fungsi dari persahabatan (santrock) diantaranya :
a)      Sebagai kawan, dimana persahabatan memberi ana seorang teman yang akrab, teman yang bersedia meluangkan kegiatan-kegiatan bersama
b)      Sebagai pendorong, persahabatan memberikan informasi-informasi yang menarik, kegembiraan, dan hiburan
c)      Sebagai pendukung ego, persahabatan menyediakan harapan atau dukungan, dorongan dan umpan balik yang dapat membantu anak mempertahankan kesan atas dirinya sebagai individu yang mampu menarik dan berharga
d)      Sebagai pendukung fisik, persahabatan member waktu, kemampuan dan pertolongan
e)      Sebagai perbandinagn social, persahabatan menyediakan informasi tentang bagaimana cara berhubungan dengan orang lain dan apakah anak melakukannya dengan baik
f)        Sebagai pemberi keakraban dan perhatian, persahabatan memberikan anak suatu hubunagn yang hangat, erat, saling mempercayai dengan anak yang lain yang berkaitan dengan pengungkapan diri sendiri
Tahap-tahap perkembangan gagasan anak tentang persahabatan ( hetherengon dan parke ) , diantaranay :
1)      Reward- cost stage ( 7-8tahun ), pada tahap ini akan menyebutkan cirri-ciri sahabat sebagai teman yang menawarkan bantuan, melakukan kegiatan bersama-sama, bisa memberikan ide, bisa bergabung dalam permainan, menawarkan judgement, dengan secara fisik memiliki kesamma demografis.
2)      Normative stage ( 10-11tahun ), anak mengharapkan sahabatnya bisa menerima dan mengagumi nilai dan sikap yang sama terhadap aturan dan sanksi.
3)      Emphatic stage ( 11-13tahun ), anak mengharapkan kesungguhan,dan potensi intimacy dari sahabat, mengharapkan sahabat untuk memahami dan keterbukaan terhadap dirinya, mau menerima pertolongannya, berbagai minat dan mempertahankan sikap dan nilai yang sama.
4.      Hubungan dengan sekolah
Memasuki lingkungan sekolah seringkali menjadi hal  yang sangat menakutkan bagi sebagian  siswa. Hal ini disebabkan karena dia  akan dihadapkan dengan suasana, lingkungan dan teman-teman yang baru. Disekolah, siswa harus memahami, menghayati, dan menerapkan ketentuan-ketentuan yang berlaku disekolah. Siswa harus mampu berkomunikasi, baik secara verbal maupun nonverbal. kelancaran berkomunikasi , selain memperbanyak kawan, juga untuk memupuk kesehatan mental.
Sekolah merupakan lingkungan artificial, yang sengaja dibentuk guna mendidik dan membina generasi muda kearah tujuan tertentu, terutama untuk membekali anak dengan pengetahuan dan kecakapan hidup ( life skill ), yang dibutuhkan dikemudian hari.
Santrock ( 1988 ), berbagai peristiwa hidup yang dialami oleh remaja selama berada di sekolah sangat mungkin mempengaruhi perkembangannya, seperti perkembangan identitasnya, keyakinan tehadap kompetensi diri sendiri, gambaran hidup, dan kesempatan berkarir, hubungan-hubungan social, batasan mengenai hal-hal yang benar dan salah, serta pemahaman mengenai bagaimana system social yang ada diluar lingkup keluarga berfungsi.
Ada 2 fungsi sekolah ( dusek : 1991 ), yaitu :
1)      Memberi kesempatan bagi remaja untuk tumbuh secara social dan emosional
2)      Membekali mereka dengan pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan untuk menjadi anggota masyarakat yang produktif
sekolah mempengaruhi perkembangan anak, terutama perkembangan identitas, melalui dua kurikulum yaitu kurikulum formal dan informal.
Jadi, disamping keluarga dan teman sebaya, sekolah juga memainkan peranan yang sangat penting bagi perkembangan anak. Interaksi guru dan teman sebaya di sekolah, memberikan suatu peluang yang besar bagi remaja untuk mengembangkan kemampuan kognitif dan keterampilan social, memperoleh pengetahuan tentang dunia serta mengembangkan konsep diri yang lebih positif.