Jumat, 23 Desember 2011


makalah-perkembangan interpersonal peserta didik
BAB 1
PENDAHULUAN
A.     Latar belakang masalah
Pada dasarnya tiap peserta didik memerlukan orang lain untuk menemani ataupun sebagai tempat curahan segala apa yang dirasa. Dalam hal ini peran keluarga, teman sebaya, ataupun sahabat sangat diperlukan. Komunikasi interpersonal pada lingkungan sekitar dapat mempengaruhi aktivitas belajar mereka. Tujuan dari komunikasi interpersonal adalah menemukan diri sendiri, menemukan dunia luar, membentuk dan menjaga hubungan yang penuh arti, berubah sikap dan tingkah laku, untuk bermain dan kesenangan, serta untuk membantu. Hal ini disampaikan oleh Armi Muhamad ( 2002 : 165 ).
Dalam kaitannya dengan komunikasi interpersonal, seorang peserta didik tentu memerlukan adanya ketenangan serta kecocokan agar dapat mencapai sebuah hubungan yang harmonis dan seimbang.
B.     Rumusan masalah
1)      Hubungan dengan keluarga
2)      Hubungan dengan teman sebaya
3)      Persahabatan
4)      Hubungan dengan sekolah
                                                                                         






BAB II
PEMBAHASAN
1.      Hubungan dengan keluarga
Menurut armi muhamad ( 2002 : 159 ), komunikasi interpersonal di definisikan sebagai “ proses pertukaran informasi diantara seseorang dengan paling kurang seorang lainnya atau biasanya diantara dua orang yang dapat langsung diketahui baliknya. Komunikasi interpersonal merupakan format komunikasi yang paling sering dilakukan oleh semua orang dalam hidupnya.
A.     Karakteristik hubungan anak usia sekolah dengan keluarga
Dari definisi diatas dapat diketahui perlunya seorang peserta didik untuk berkomunikasi dengan keluarga dalam hal ini yaitu orang tua. Keluarga merupakan unit social yang terkecil yang memiliki peranan penting dan menjadi dasar bagi perkembangan psikososial anak dalam konteks social yang lebih luas. Bersamaan dengan masuknya anak kesekolah dasar, maka terjadilah perubahan hubungan anak dengan orang tua. Perubahan tersebut di antaranya disebabkan adanya peningkatan penggunaan waktu yang dilewati anak-anak bersama teman-teman sebayanya.
Dengan banyaknya perubahan yang terjadi pada anak, maka figur orang tua sangat dibutuhkan untuk menuntun anak agar mampu menjalani kesehariannya dengan baik dan mampu berinteraksi dengan lingkungannya. Hubungan orang tua dan anak akan berkembang dengan baik jika diantara keduanya saling memupuk keterbukaan. Berbicara dan mendengarkan merupakan hal yang sangat penting, perkembangan yang dialami anak sama sekali bukan alasan untuk menghentikan kebiasaan-kebiasaan di masa kecilnya.
Sesuai dengan perkembangan kognitifnya yang semakin matang, maka pada usia sekolah, anak secara berangsur-angsur lebih banyak mempelajarai mengenai sikaap-sikap dan motivasi orang tuanya, serta memahami aturan-aturan keluarga, sehingga mereka menjadi lebih mampu untuk mengendalikan tingkah lakunya, perubahan ini mempunyai dampak yang besar tehadap kualitas hubungan anak-anak usia sekolah dengan orang tua mereka. Dalam hal ini, orang tua merasakan pengontrolan dirinya terhadap tingkah laku anak mereka berkurang dari waktu ke waktu dibandingkan pada tahun-tahun awal kehidupan mereka.

Dengan demikian meskipun terjadinya pengurangan pengawasan dari orang tua tarhadap anaknya selama usia sekolah dasar, bukan berarti orang tua sama sekali melepaskan mereka. Sebaliknya orang tua masih terus memonitor usaha-usaha yang dilakukan anak dalam memelihara diri mereka, sekalipun secara tidak langsung.
B.     Karakteristik hubungan remaja dengan keluarga
Remaja merupakan sebuah masa pergantian yang sering disebut juga dengan masa untuk menemukan jati diri, perubahan-perubahan yang terjadi pada remaja baik dari fisik, kognitif, social. Hal ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap relasi orang tua dan remaja. Salah satu cirri yang menonjol dari remaja ialah perjuangan untuk memperoleh otonomi, baik secara fisik dan psikologis. Karena remaja meluangkan lebih sedikit waktunya bersama orang tua dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk saling berinteraksi dengan dunia yang lebih luas, maka mereka berhadapan dengan bermacam-macam nilai dan ide-ide.
Keterikatan orang tua dan remaja dapat membantu kompetensi social dan kesejahteraan sosialnya, seperti tercermin dalam ciri-ciri: harga diri, penyesuaian emosional, dan kesehatan fisik, misalnya remaja yang memiliki hubungan yang nyaman dan harmonis dengan orang tua mereka, memiliki harga diri dan kesejahteraaan emosional yang lebih baik.
Dengan demikian, keterikatan dengan orang tua selama masa remaja dapat berfungsi adaptif, yang menyediakan landasan yang kokoh dimana remaja dapat menjelajahi dan menguasai lingkungan-lingkungan baru dan suatu dunia social yang luas dengan cara-cara yang sehat secara psikologis.
Agar keterikatan ini dapat berjalan dengan harmonis, maka orang perlu membiarkan mereka untuk bebas, namun tetap mengawasi dan mengendalikan meskipun mereka bebas, bukan berarti orang tua lepas tangan. Biarkan mereka mengembangkan diri dengan lingkunagn sekitar.



2.      Hubungan dengan teman sebaya
Siswa dalam perkembangannya mempunyai kebutuhan yang kuat untuk berkomunikasi dan berkeinginan untuk mempunyai banyak teman, namun kadang-kadang untuk membangun hubunagn antar teman itu sendiri tidak mudah, seseorang harus memiliki penerimaan diri yang kuat agar tercipta suatu hubungan yang baik dan sehat.
A.     Karakteristik hubungan anak usia sekolah dengan teman sebaya
Siswa yang memiliki kesulitan dalam melakukan komunikasi interpersoanl menurut Tedjasaputra (2005) akan sulit menyesuaikan diri, seringkali marah, cenderung memaksakan kehendak, egois dan mau menang sendiri sehingga mudah terlibat dalam perselisihan.keterampilan komunikasi interpersonal pada siswa ini menjadi  sangat penting karena dalam bergaul dengan teman sebayanya siswa seringkali dihadapkan dengan hal-hal yang membuatnya harus mampu  menyatakan  pendapat pribadinya tanpa disertai emosi, marah atau sikap kasar, bahkan siswa harus bisa mencoba menetralisasi keadaan apabila terjadi suatu konflik.Bahkan suatu studi menyimpulkan bahwa kelemahan berkomunikasi akan menghambat personal seseorang (Slamet :2005).
Teman sebaya mempunyai fungsi yang hamper sama dengan orang tua, teman bisa memberikan ketenangan ketika mengalami kekhawatiran. Tidak jarang terjadi seorang anak yang tadinya penakut berubah menjadi pemberani berkat teman sebaya. Interaksi teman sebaya pada anak usia sekolah biasanya digambarkan dengan pembentukan kelompok yang biasanya lebih menekankan pada aktivitas bersama-sama, seperti berbicara, berkeluyuran, berjalan ke sekolah, mendengarkan music, bermain game, dll.
B.     Karakteristik hubungan remaja dengan teman sebaya
Perkembangan remaja terjadi dalam konteks sosial yang meliputi keluarga, kelompok teman sebaya dan  masyarakat tempat siswa itu hidup. Maka dalam proses perkembanganya remaja akan selalu bersinggungan dengan situasi-situasi sosial yang tertentu saja mengharuskan  remaja untuk melakukan penyesuaian diri, dengan melakukan penyesuaian diri remaja dapat mengenal, memahami dan menerima sirinya sendiri serta lingkungan.
Perkembangan kehidupan social remaja juga ditandai dengan gejala meningkatnya pengaruh teman sebaya dalam kehidupan mereka. Hubungan teman sebaya lebih didasarkan pada hubungan persahabatan, menurut Bloss, pembentukan persahabatan remaja erat kaitannya dengan perubahan aspek-aspek pengendalian psikologis yang berhubungan dengan kecintaan pada diri sendiri dan munculnya phallic konflik,
Kelly dan Hansen ( 1987 ) menyebutkan 6 fungsi positif dari teman sebaya yaitu :
1)      Mengontrol impuls-impuls agresif
2)      Memperoleh dorongan emosional dan social serta menjadi lebih independen
3)      Meningkatkan keterampilan-keterampilan social, mengembangkan kemampuan penalaran, dan belajar untuk mengekspresikan perasaan-perasaan dengan cara-cara yang lebih matang
4)      Mengembangkan sikap terhadap seksualitas, dan tingkah laku peran jenis kelamin.
5)      Memperkuat penyesuaian moral dan nilai-nilai
6)      Meningkatkan harga diri
Meskipun teman sebaya mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi remaja, namun peran orang tua masih sangat penting. Hal ini adalah karena antara hubungan dengan orang tua dan hubungan teman sebaya memberikan pemenuhan akan kebutuhan-kebutuhan yang berbeda dalam perkembangan remaja ( savin William& berndt, 1990 ).
3.      Persahabatan
Mc Devit dan omrod, mendefinisikan persahabatan sebagai “ peer relationship that is voluntary and reciprocal and includes shared routines and customs “.
Ada 3 kualitas yang membedakan persahabatan dengan bentuk hubungan teman sebaya lainnya, ( mc devvit dan ormrod ), yaitu :
1)      They are voluntary relationship ( adanya hubungan yang di bangun atas dasar sukarela )
2)      They are powered by shared routines and customs ( hubungan persahabatan dibangun atas dasar kesamaa kebiasaan )
3)      They are reciprocal relationship ( persahabatan dibangun atas dasar hubungan timbale balik )
Menurut santrock, karakteristik paling umum dari persahabatan adalah :
·        Keakraban ( intimacy ), diartikan sebagai penyingkapan diri dari berbagai pemikiran pribadi. Keakraban ini menjadi dasar bagi relasi anak denagn sahabat
·        Kesamaan ( similarity )
Fungsi dari persahabatan (santrock) diantaranya :
a)      Sebagai kawan, dimana persahabatan memberi ana seorang teman yang akrab, teman yang bersedia meluangkan kegiatan-kegiatan bersama
b)      Sebagai pendorong, persahabatan memberikan informasi-informasi yang menarik, kegembiraan, dan hiburan
c)      Sebagai pendukung ego, persahabatan menyediakan harapan atau dukungan, dorongan dan umpan balik yang dapat membantu anak mempertahankan kesan atas dirinya sebagai individu yang mampu menarik dan berharga
d)      Sebagai pendukung fisik, persahabatan member waktu, kemampuan dan pertolongan
e)      Sebagai perbandinagn social, persahabatan menyediakan informasi tentang bagaimana cara berhubungan dengan orang lain dan apakah anak melakukannya dengan baik
f)        Sebagai pemberi keakraban dan perhatian, persahabatan memberikan anak suatu hubunagn yang hangat, erat, saling mempercayai dengan anak yang lain yang berkaitan dengan pengungkapan diri sendiri
Tahap-tahap perkembangan gagasan anak tentang persahabatan ( hetherengon dan parke ) , diantaranay :
1)      Reward- cost stage ( 7-8tahun ), pada tahap ini akan menyebutkan cirri-ciri sahabat sebagai teman yang menawarkan bantuan, melakukan kegiatan bersama-sama, bisa memberikan ide, bisa bergabung dalam permainan, menawarkan judgement, dengan secara fisik memiliki kesamma demografis.
2)      Normative stage ( 10-11tahun ), anak mengharapkan sahabatnya bisa menerima dan mengagumi nilai dan sikap yang sama terhadap aturan dan sanksi.
3)      Emphatic stage ( 11-13tahun ), anak mengharapkan kesungguhan,dan potensi intimacy dari sahabat, mengharapkan sahabat untuk memahami dan keterbukaan terhadap dirinya, mau menerima pertolongannya, berbagai minat dan mempertahankan sikap dan nilai yang sama.
4.      Hubungan dengan sekolah
Memasuki lingkungan sekolah seringkali menjadi hal  yang sangat menakutkan bagi sebagian  siswa. Hal ini disebabkan karena dia  akan dihadapkan dengan suasana, lingkungan dan teman-teman yang baru. Disekolah, siswa harus memahami, menghayati, dan menerapkan ketentuan-ketentuan yang berlaku disekolah. Siswa harus mampu berkomunikasi, baik secara verbal maupun nonverbal. kelancaran berkomunikasi , selain memperbanyak kawan, juga untuk memupuk kesehatan mental.
Sekolah merupakan lingkungan artificial, yang sengaja dibentuk guna mendidik dan membina generasi muda kearah tujuan tertentu, terutama untuk membekali anak dengan pengetahuan dan kecakapan hidup ( life skill ), yang dibutuhkan dikemudian hari.
Santrock ( 1988 ), berbagai peristiwa hidup yang dialami oleh remaja selama berada di sekolah sangat mungkin mempengaruhi perkembangannya, seperti perkembangan identitasnya, keyakinan tehadap kompetensi diri sendiri, gambaran hidup, dan kesempatan berkarir, hubungan-hubungan social, batasan mengenai hal-hal yang benar dan salah, serta pemahaman mengenai bagaimana system social yang ada diluar lingkup keluarga berfungsi.
Ada 2 fungsi sekolah ( dusek : 1991 ), yaitu :
1)      Memberi kesempatan bagi remaja untuk tumbuh secara social dan emosional
2)      Membekali mereka dengan pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan untuk menjadi anggota masyarakat yang produktif
sekolah mempengaruhi perkembangan anak, terutama perkembangan identitas, melalui dua kurikulum yaitu kurikulum formal dan informal.
Jadi, disamping keluarga dan teman sebaya, sekolah juga memainkan peranan yang sangat penting bagi perkembangan anak. Interaksi guru dan teman sebaya di sekolah, memberikan suatu peluang yang besar bagi remaja untuk mengembangkan kemampuan kognitif dan keterampilan social, memperoleh pengetahuan tentang dunia serta mengembangkan konsep diri yang lebih positif.